Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

PENGHAYATAN RAMADHAN

Abu Bassam | Selasa, 14 Juni 2016 - 11:49:41 WIB | dibaca: 2996 pembaca

oleh: Ustadz Firanda Andirja, MA Hafizhahullah

بسم اللّه الرحمن الرحيم 
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه  ومن والاه


Ada beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh saudara-saudara kita dari Singapura yang berkaitan dengan ibadah yang sangat agung, yaitu ibadah puasa.

(1) Soal yang pertama:

Apakah perlu melafalkan niat untuk berpuasa?

Jawabannya:

Kita berusaha berpuasa sebagaimana puasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabat. 

Dan tidak kita dapati bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabat  pernah mengucapkan niat tatkala hendak melaksanakan ibadah puasa, meskipun sekali.

Dari sini kita berusaha untuk mengikuti petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. 

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ (صلى الله عليه وسلم)

"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
 
Tatkala tidak kita dapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melafalkan niat untuk berpuasa, maka kita mencontoh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan tidak pula melafalkan niat.


(2) Pertanyaan yang kedua:

Apakah amalan-amalan yang seharusnya dilakukan tatkala berpuasa?

Jawabannya:
 
Sesungguhnya seorang tatkala berpuasa, dia tidak hanya berpuasa dari makanan dan minum, tetapi perkara yang penting pula yaitu dia menjaga dirinya: 

- menjaga mulutnya agar tidak bermaksiat, 
- menjaga pandangannya agar tidak melihat yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena tujuan berpuasa sebagaimana Allah sebutkan yaitu: "Agar kalian bertaqwa."

Jika seorang berpuasa kemudian dia tidak bertaqwa maka apa fungsi puasanya?
Bahkan dia bermaksiat tatkala berpuasa. 

Ingat sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ والعطش

"Banyak orang yang berpuasa dan dia tidak meraih dari puasanya kecuali hanya rasa lapar dan rasa dahaga."

(HR Ahmad nomor 8501)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang berpuasa dan dia tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak butuh dengan lapar dan dahaganya."

(HR Bukhari nomor 1770, versi Fathul Bari nomor 1903)

Adapun amalan-amalan yang harus kita perhatikan tatkala melakukan ibadah puasa, bahwasannya kita tahu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling baik, dan lebih lagi menjadi orang yang sangat baik tatkala di bulan Ramadhan."

(HR Bukhari nomor 3290, versi Fathul Bari nomor 3554) 
 
Oleh karenanya, kita tingkatkan ibadah kita tatkala di bulan Ramadhan. Ibadah-ibadah yang mulia seperti membaca Al Quran, bersedekah, shalat malam (qiyamul lail, shalat tarawih), membantu saudara sesama muslim.

Bulan Ramadhan hanya singkat dan itulah musim yang Allah siapkan untuk memperbanyak pahala. Tidak setiap orang mendapatkan musim ini. Tidak setiap tahun akan terulang bagi seseorang.

Tatkala kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk bertemu dengan bulan yang mulia ini maka kita manfaatkan musim tersebut sebaik-baiknya.

(3) Pertanyaan ketiga

Apa bedanya qiyamul lail dan tarawih?

Jawabannya:

Qiyamul lail adalah shalat malam, adapun tarawih adalah shalat malam yang dikerjakan di bulan Ramadhan.

Sebenarnya tidak ada bedanya, karena para ulama menyebutkan bahwa qiyamul lail boleh dikerjakan sejak selesai shalat isya' sampai sebelum adzan subuh. Tentunya yang terbaik adalah sepertiga malam terakhir.

Akan tetapi kita ketahui bahwasanya di jaman para sahabat dan juga di jaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tatkala bulan Ramadhan mereka melaksanakan qiyamul lail secara berjamaah. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah beberapa hari salat terawih berjamaah bersama-sama para shahabat. Kemudian dilanjutkan oleh 'Umar bin Kaththab radhiyallahu 'anhu. 

Adapun Abu Bakar, belum sempat melaksanakan atau menghidupkan shalat tarawih karena masa kekuasaan beliau hanya 2 tahun dan beliau sangat sibuk untuk mengembalikan stabilitas keamanan (diantara) munculnya Musailama Al Kadzab (nabi palsu), sehingga terjadi banyak peperangan.

Pada hakikatnya tidak ada bedanya antara qiyamul lail dengan tarawih, hanya saja qiyamul lail lebih umum dan shalat tarawih lebih khusus.

Shalat tarawih adalah qiyamul lail yang dikerjakan secara berjamah di bulan Ramadhan.


(4) Pertanyaan keempat

Adakah doa untuk berbuka puasa?

Jawabannya:

Merupakan sunnah yang sudah ditinggalkan oleh masyarakat adalah berdoa tatkala berbuka. 

Diantara kenikmatan yang Allah berikan kepada orang yang berpuasa adalah doanya dikabulkan tatkala sedang berbuka. 

Kalau kita di Madinah, kita lihat di masjid Nabawi atau masjidil Haram, tatkala menjelang berbuka, 5 menit sebelum berbuka, seluruh jamaah masjid menengadahkan kedua tangan mereka meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena mereka tahu bahwa itulah saat dikabulkannya doa.

Ini adalah sunnah yang ditinggalkan oleh masyarakat kita yang tatkala menjelang berbuka mereka justru disibukkan dengan berbicara, disibukkan dengan mengumpulkan makanan sehingga lupa untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan tatkala memakan makanan disunnnah berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

ذهب الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”

"Telah hilang dahaga dan kerongkongan sudah menjadi basah dan tetap ada ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, insya Allahu Ta'ala."

(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih Al Jami’: 4/209, no. 4678)

Inilah doa yang disunnahkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Semoga kita diberi taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk bisa berpuasa dan diampuni dosa­­­­­­­­­­­­­­­-dosa kita karena kata Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap dari Allah maka diampuni yang telah lalu."

(HR Bukhari nomor 37, versi Fathul Bari nomor 38)

Terlalu banyak dosa yang kita lakukan tatkala masuk bulan Ramadhan, lalu keluar Ramadahan dengan dosa-dosa yang telah diampuni, tidak ada yang tersisa sedikitpun dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Amin, ya Rabbal 'alamin.

Demikian saja apa yang bisa saya sampaikan.

وَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  
_________

Selasa, 09 Ramadhan 1437 H / 14 Juni 2016 M
via Group BiAS (BimbinganIslam.com)
Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UFA-01
 
 



Berita Terkait