Artikel APU

Atturots Peduli Umat

HUKUM QURBAN WAJIB atau SUNNAH ?

Abu Bassam | Senin, 24 Agustus 2015 - 14:30:24 WIB | dibaca: 3085 pembaca

Foto Qurban 1435 H Bersama APU

Menyembelih qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah Ta'ala berfirman,

ΩΩŽΨ΅ΩŽΩ„Ω‘Ω Ω„ΩΨ±ΩŽΨ¨Ω‘ΩΩƒΩŽ ΩˆΩŽΨ§Ω†Ω’Ψ­ΩŽΨ±Ω’

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

قُلْ Ψ₯ΩΩ†Ω‘ΩŽ Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΨ§Ψͺِي ΩˆΩŽΩ†ΩΨ³ΩΩƒΩΩŠ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΨ­Ω’ΩŠΩŽΨ§ΩŠΩŽ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΩ…ΩŽΨ§Ψͺِي Ω„ΩΩ„Ω‘ΩŽΩ‡Ω Ψ±ΩŽΨ¨Ω‘Ω Ψ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ…ΩΩŠΩ†ΩŽ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al An'am: 162). Di antara tafsiran an nusuk adalah sembelihan, sebagaimana pendapat Ibnu 'Abbas, Sa'id bin Jubair, Mujahid dan Ibnu Qutaibah. Az Zajaj mengatakan bahwa bahwa makna an nusuk adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri pada Allah 'azza wa jalla, namun umumnya digunakan untuk sembelihan.[Lihat Zaadul Masiir, 2/446].

Ketahuilah, yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, dan bukan hanya daging atau darahnya. Allah Ta'ala berfirman,

Ω„ΩŽΩ†Ω’ ΩŠΩŽΩ†ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡ΩŽ Ω„ΩΨ­ΩΩˆΩ…ΩΩ‡ΩŽΨ§ ΩˆΩŽΩ„ΩŽΨ§ Ψ―ΩΩ…ΩŽΨ§Ψ€ΩΩ‡ΩŽΨ§ ΩˆΩŽΩ„ΩŽΩƒΩΩ†Ω’ ΩŠΩŽΩ†ΩŽΨ§Ω„ΩΩ‡Ω Ψ§Ω„ΨͺΩ‘ΩŽΩ‚Ω’ΩˆΩŽΩ‰ مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah qurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari qurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), “ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban yaitu ikhlas, bukan riya' atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan.[Lihat penjelasan yang sangat menarik dari Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman fii Tafsiri Kalamil Mannan, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H].

Menyembelih Qurban Wajib ataukah Sunnah?

Menyembelih qurban adalah sesuatu yang disyari'atkan berdasarkan Al Qur'an, As Sunnah dan Ijma' (konsensus kaum muslimin).[Lihat Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1527]. Namun apakah menyembelih tersebut wajib ataukah sunnah? Di sini para ulama memiliki beda pendapat.

[Pendapat pertama] Diwajibkan bagi orang yang mampu

Yang berpendapat seperti ini adalah Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, Rabi'ah, Al Laits bin Sa'ad, Al Awza'i, Ats Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Di antara dalil mereka adalah firman Allah Ta'ala,

ΩΩŽΨ΅ΩŽΩ„ΩΩ‘ Ω„ΩΨ±ΩŽΨ¨ΩΩ‘ΩƒΩŽ ΩˆΩŽΨ§Ω†Ω’Ψ­ΩŽΨ±Ω’

“Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Hadits ini menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diwajibkan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya.[Lihat Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1529]. Dan masih ada beberapa dalil lainnya.

[Pendapat kedua] Sunnah dan Tidak Wajib

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih qurban adalah sunnah mu'akkad. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi'iyyah, ulama Hambali, pendapat yang paling kuat dari Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakr, 'Umar bin Khottob, Bilal, Abu Mas'ud Al Badriy,  Suwaid bin Ghafalah, Sa'id bin Al Musayyab, 'Atho', 'Alqomah, Al Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

Di antara dalil mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

Ψ₯ِذَا Ψ±ΩŽΨ£ΩŽΩŠΩ’Ψͺُمْ Ω‡ΩΩ„Ψ§ΩŽΩ„ΩŽ ذِى Ψ§Ω„Ω’Ψ­ΩΨ¬Ω‘ΩŽΨ©Ω وَأَرَادَ Ψ£ΩŽΨ­ΩŽΨ―ΩΩƒΩΩ…Ω’ Ψ£ΩŽΩ†Ω’ ΩŠΩΨΆΩŽΨ­Ω‘ΩΩ‰ΩŽ ΩΩŽΩ„Ω’ΩŠΩΩ…Ω’Ψ³ΩΩƒΩ’ ΨΉΩŽΩ†Ω’ Ψ΄ΩŽΨΉΩ’Ψ±ΩΩ‡Ω ΩˆΩŽΨ£ΩŽΨΈΩ’ΩΩŽΨ§Ψ±ΩΩ‡Ω

“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.”
[HR. Muslim no. 1977, dari Ummu Salamah]. Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul qurban itu sendiri.

Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.

Begitu pula alasan tidak wajibnya karena Abu Bakar dan 'Umar tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib[Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa' no. 1139 menyatakan bahwa riwayat ini shahih]. Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satu pun sahabat yang menyelisihi pendapat mereka. [Lihat Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1529].

Dari dua pendapat di  atas, kami lebih cenderung pada pendapat kedua (pendapat mayoritas ulama) yang menyatakan menyembelih qurban sunnah dan tidak wajib. Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakr dan Umar yang pernah tidak berqurban. Seandainya tidak ada dalil dari hadits Nabi yang menguatkan salah satu pendapat di atas, maka cukup perbuatan mereka berdua sebagai hujjah yang kuat bahwa qurban tidaklah wajib namun sunnah (dianjurkan).

فَΨ₯ِنْ يُطِيعُوا أَبَا Ψ¨ΩŽΩƒΩ’Ψ±Ω ΩˆΩŽΨΉΩΩ…ΩŽΨ±ΩŽ ΩŠΩŽΨ±Ω’Ψ΄ΩΨ―ΩΩˆΨ§

“Jika kalian mengikuti Abu Bakr dan Umar, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk.”
[HR. Muslim no. 681].

Namun sudah sepantasnya seorang yang telah berkemampuan untuk menunaikan ibadah qurban ini agar ia terbebas dari tanggung jawab dan perselisihan yang ada. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “Janganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri memerintahkan, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.” Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. Wallahu a'lam.”[Adhwa-ul Bayan fii Iidhohil Qur'an bil Qur'an, hal. 1120, Darul Kutub Al 'Ilmiyah Beirut, cetakan kedua, tahun 2006].

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan  ibadah yang mulia ini dan menerima setiap amalan sholih kita. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amalan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com/umum/meraih-takwa-melalui-ibadah-qurban-631.html

***
SEMARAK EVENT QURBAN IDUL ADHA BERSAMA APU (Atturots Peduli Umat)

β€ͺ========================================================

PROGRAM QURBAN TAHUN INI (1436 H / 2015) :
Sapi: Rp 19.250.000,- per ekor (7 orang @ Rp 2.750.000,-)
Kambing: Rp.2.500.000,- s/d Rp.3.000.000,-

Penyaluran di Masjid-masjid Binaan APU yang berada di Gunungkidul dan sekitarnya.

SILAKAN SALURKAN DONASI ANDA KE REK.:
Bank Muamalat Yogyakarta no. 539 0000 412 a.n Atturots Peduli Umat
atau
BPD DIY Syari'ah no. 500-262-0000-76-128 a.n Atturots Peduli Umat

Konfirmasi SMS: 0857 0103 2097
#Qurban1436 #nominal trf #nama bank #nama  #asal kota

Semoga Allah Ta'ala memberikan balasan yang lebih baik.
Jazakumullahu khoiron.
 



Berita Terkait